Selasa, 07 Agustus 2012

Model Pembelajaran Think-Pair-Share


Metode Think-Pair-Share adalah metode pembelajaran kooperatif yang berisi suatu struktur yang memiliki tujuan umum untuk meningkatkan penguasaan isi akademik.
Metode Think-Pair-Share memberi waktu kepada para siswa untuk berfikir dan merespon serta saling membantu siswa lain. Sebagai contoh, seorang guru baru saja menyelesaikan sajian pendek atau para siswa telah selesai membaca tugas. Selanjutnya, guru meminta para siswa untuk menyadari lebih serius mengenai yang telah dijelaskan oleh guru atau yang telah dibaca. Guru lebih memilih metode Think-pair-share dari pada metode tanya jawab untuk kelompok secara keseluruhan.
A.    Karakteristik Model Pembelajaran Think-pair-share
1.      Langkah-langkah metode pembelajaran Think-Pair-Share sebagai berikut:
a)      Langkah 1 Berpikir (thinking) :
Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berkaitan dengan pelajaran dan siswa diberi waktu untuk berfikir sendiri mengenai jawaban atau ide tersebut.
b)      Langkah 2 Berpasangan (pairing) :
Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan jawaban atau ide yang telah mereka peroleh.
c)      Langkah 3 Berbagi (sharing) :
Pada langkah akhir ini, Guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerjasama dengan kelas secara keseluruhan mengenai yang telah mereka bicarakan. Langkah ini akan lebih efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separuh dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh pasangan untuk melapor.(Richard, 2007 : 15)
2.      Sistem sosial
Guru meminta siswa berpasangan untuk berbagi atau bekerjasama, kemudian meminta mereka membicarakan dengan kelas secara keseluruhan mengenai yang telah didiskusikan. Langkah ini akan lebih efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separuh dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh pasangan untuk melapor. Anak didik yang bergairah belajar seseorang diri akan semakin bergairah bila dilibatkan dalam kerja kelompok. Tugas yang berat dikerjakan seorang diri akan menjadi mudah bila dikerjakan bersama. Anak didik yang egois akan menyadari pentingnya kehidupan bersama dalam hal tertentu. Dan anak didik untuk terbiasa menghargai pendapat orang lain dari belajar bersama yaitu anak didik yang belum mengerti penjelasan guru akan menjadi mengerti dari hasil penjelasan dan diskusi mereka dalam kelompok. Dalam kasus-kasus tertentu penjelasan anak didik lebih efektif dimengerti dari pada penjelasan dari guru.
3.      Prinsip reaksi
Melalui pembelajaran kooperatif dapat tumbuh rasa sosial yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egoisme dalam diri mereka masing – masing, sehingga terbina sikap kesetiawanan sosial di kelas. Mereka sadar bahwa hidup ini saling ketergantungan. Tidak ada makluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri tanpa keterlibatan mahkluk lain. Anak didik yang dibiasakan hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok akan menyadari bahwa dirinya memiliki kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau mambantu yang kekurangan. Sebaliknya yang kekurangan dengan rela hati mau belajar dari yang mempunyai kelebihan, tanpa ada rasa minder. Persaingan yang positif pun terjadi di kelas dalam rangka untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. Dan hasil yang optimal akan diperoleh jika para siswa yang tergabung dalam kelompok saling membantu dan memotivasi. Kondisi ini akan tercipta dari suasana saling memiliki, saling menerima, saling membantu dan saling memperhatikan satu sama lain
4.      Sistem pendukung
Sistem pendukung adalah sistem tertentu yang digunakan untuk menunjang keberasilan pelaksanaan suatu model. Maka dalam kelompok kami ini menggunakan sistem pendukung media Power point.
5.      Dampak Intraksional dan Pendukung
Dampak Intraksional Model Pembelajaran TPS :
·         Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas
·         Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
·         Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar
·         Perilaku menggagu menjadi lebih kecil
·         Konflik antar pribadi berkurang
·         Pemahaman yang lebih mendalam
·         Motivasi akan lebih besar
·         Hasil belajar akan lebih tinggi
·         Meningkatkan kebaikan budi
B.     Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran TPS
1.      Kelebihan model pembelajaran TPS :
·         Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial
·         Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok
·         Siswa aktif membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama berhasil
·         Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok
·         Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat
·         Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois
·         Meningkatkan kesedian menggunakan ide orang lain yang dirasa lebih baik
·         Meningkatkan motivasi dan hasil belajar
2.      Kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe TPS :
·         Membutuhkan koordinasi secara bersamaan dari berbagai aktivitas.
·         Membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruangan kelas. Peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dapat menyita waktu pengajaran yang berharga. Untuk itu guru harus dapat membuat perencanaan yang seksama sehingga dapat meminimalkan jumlah waktu yang terbuang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar