Metode Think-Pair-Share adalah
metode pembelajaran kooperatif yang berisi suatu struktur yang memiliki tujuan
umum untuk meningkatkan penguasaan isi akademik.
Metode Think-Pair-Share memberi
waktu kepada para siswa untuk berfikir dan merespon serta saling membantu siswa
lain. Sebagai contoh, seorang guru baru saja menyelesaikan sajian pendek atau
para siswa telah selesai membaca tugas. Selanjutnya, guru meminta para siswa
untuk menyadari lebih serius mengenai yang telah dijelaskan oleh guru atau yang
telah dibaca. Guru lebih memilih metode Think-pair-share dari pada metode tanya
jawab untuk kelompok secara keseluruhan.
A.
Karakteristik Model Pembelajaran Think-pair-share
1.
Langkah-langkah metode pembelajaran Think-Pair-Share
sebagai berikut:
a)
Langkah 1 Berpikir
(thinking) :
Guru
mengajukan pertanyaan atau isu yang berkaitan dengan pelajaran dan siswa diberi
waktu untuk berfikir sendiri mengenai jawaban atau ide tersebut.
b)
Langkah 2
Berpasangan (pairing) :
Selanjutnya
guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan jawaban atau ide yang
telah mereka peroleh.
c)
Langkah 3 Berbagi
(sharing) :
Pada
langkah akhir ini, Guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau
bekerjasama dengan kelas secara keseluruhan mengenai yang telah mereka
bicarakan. Langkah ini akan lebih efektif jika guru berkeliling kelas dari
pasangan ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separuh dari
pasangan-pasangan tersebut memperoleh pasangan untuk melapor.(Richard, 2007 :
15)
2.
Sistem sosial
Guru meminta siswa berpasangan untuk berbagi atau
bekerjasama, kemudian meminta mereka membicarakan dengan kelas secara
keseluruhan mengenai yang telah didiskusikan. Langkah ini akan lebih efektif
jika guru berkeliling kelas dari pasangan ke pasangan yang lain, sehingga
seperempat atau separuh dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh pasangan
untuk melapor. Anak didik yang bergairah belajar
seseorang diri akan semakin bergairah bila dilibatkan dalam kerja kelompok.
Tugas yang berat dikerjakan seorang diri akan menjadi mudah bila dikerjakan
bersama. Anak didik yang egois akan menyadari pentingnya kehidupan bersama
dalam hal tertentu. Dan anak didik untuk terbiasa menghargai pendapat orang
lain dari belajar bersama yaitu anak didik yang belum mengerti penjelasan guru
akan menjadi mengerti dari hasil penjelasan
dan diskusi mereka dalam kelompok. Dalam kasus-kasus tertentu penjelasan anak
didik lebih efektif dimengerti dari pada penjelasan dari guru.
3.
Prinsip reaksi
Melalui
pembelajaran kooperatif dapat tumbuh rasa sosial yang tinggi pada diri setiap
anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egoisme dalam diri mereka
masing – masing, sehingga terbina sikap kesetiawanan sosial di kelas. Mereka sadar bahwa
hidup ini saling ketergantungan. Tidak ada makluk hidup yang terus menerus
berdiri sendiri tanpa keterlibatan mahkluk lain. Anak didik yang dibiasakan
hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok akan menyadari bahwa dirinya
memiliki kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau
mambantu yang kekurangan. Sebaliknya yang kekurangan dengan rela hati mau
belajar dari yang mempunyai kelebihan, tanpa ada rasa minder. Persaingan yang positif
pun terjadi di kelas dalam rangka untuk mencapai prestasi belajar yang optimal.
Dan hasil yang optimal akan diperoleh jika para siswa yang tergabung dalam
kelompok saling membantu dan memotivasi. Kondisi ini akan tercipta dari suasana
saling memiliki, saling menerima, saling membantu dan saling memperhatikan satu
sama lain
4.
Sistem pendukung
Sistem
pendukung adalah sistem tertentu yang digunakan untuk menunjang keberasilan
pelaksanaan suatu model. Maka dalam kelompok kami ini menggunakan sistem
pendukung media Power point.
5.
Dampak Intraksional dan Pendukung
Dampak
Intraksional Model Pembelajaran TPS :
·
Meningkatkan
pencurahan waktu pada tugas
·
Rasa harga diri
menjadi lebih tinggi
·
Penerimaan terhadap
perbedaan individu menjadi lebih besar
·
Perilaku menggagu
menjadi lebih kecil
·
Konflik antar
pribadi berkurang
·
Pemahaman yang
lebih mendalam
·
Motivasi akan lebih
besar
·
Hasil belajar akan
lebih tinggi
·
Meningkatkan
kebaikan budi
B.
Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran TPS
1.
Kelebihan model pembelajaran TPS :
·
Meningkatkan
kepekaan dan kesetiakawanan sosial
·
Siswa bekerja sama dalam
mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok
·
Siswa aktif
membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama berhasil
·
Aktif berperan
sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok
·
Interaksi antar
siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat
·
Menghilangkan sifat
mementingkan diri sendiri atau egois
·
Meningkatkan
kesedian menggunakan ide orang lain yang dirasa lebih baik
·
Meningkatkan
motivasi dan hasil belajar
2.
Kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe TPS :
·
Membutuhkan koordinasi
secara bersamaan dari berbagai aktivitas.
·
Membutuhkan perhatian
khusus dalam penggunaan ruangan kelas. Peralihan dari
seluruh kelas ke kelompok kecil dapat menyita waktu pengajaran yang berharga.
Untuk itu guru harus dapat membuat perencanaan yang seksama sehingga dapat
meminimalkan jumlah waktu yang terbuang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar